Senin, 20 Februari 2012

Menapak Sejarah Desa Tugu

Satu legenda yang umum diketahui masyarakat Tugu adalah tokoh tunggal Nyi Lapda Kriya. Konon pusaka beliau adalah selendang, yang apabila dikibaskan maka muncullah nyala api.
Berangkat dari versi itu, baik adanya kita urai kembali sejarah Tugu.
Konon, Tersebutlah tiga pendekar, Ki Maya, Ki Nampa Subaya, dan Nai Lapda Kriya. Tiga pendekar seperguruan ini, setelah dirasa cukup memiliki ilmu. Merekapun ingin mengamalkan ilmunya di timur Kali Cimanuk, yang disebut juga Alas Kedung Penjalin.
Ki Maya dan Ki Nampa Subaya dikarenakan seorang laki-laki maka dibekalilah perkakas seperti golok, pedang, wadung. dan lainnya. Nai Lapda Kriya ditugaskan hanya membantunya. Nantinya digunakan sebagai alat membabad alas. Lantas mereka bertiga pamit undur diri kepada sang guru.
Setelah beberapa hari babad alas, satu persatu pohon pun bertumbangan, dan menjadi kering. Nai Lapda Kriya pun tak mau hanya berdiam diri. Pikirnya, kenapa daun yang kering ini tidak dibakar saja, supaya lebih cepet dan meringankan babad alas? Maka daun yang sudah kering itupun dibakar Nai Lapda. Begitu cepat membakar seluruh hutan. Dalam waktu sehari sudah dirasa cukup luas. Sehabis itu, segera mereka membuat patok. Karena Nai Lapda Kriya seorang wanita maka beliau ditempatkan disebelah selatan. Ki Nampa Subaya ditengah dan Ki Maya sebelah utara.
Bukti fisik sekarang masih dijumpai dengan adanya Makam Nai Lapda Kriya di Desa Tugu dan Ki Nampa Subaya di dusun Tajug, Sudimampir. Ki Maya di Pesisir Balongan. Adapun tradisi yang masih dijumpai adalah “pande” di Sudimampir dan Sembadra. Turunan Ki Maya dan Ki Nampa Subaya.
Seiring waktu, padukuhan baru itu makin banyak dikunjungi. Dan tinggal disana.
Layaknya sebuah daerah baru, maka berbondong-bondonglah penduduk menempati tempat baru itu. Hal ini pun tersiar kabar oleh Pengagung dari Semarang Raden Mas Adi.
Setelah meminta ijin untuk tinggal kepada Nai Lapda kriya, Raden Mas Adi. Mulai mengenalkan diri dan bergaul dengan masyarakat setempat. Karena beliau adalah seorang bangsawan masyarakatpun mengangkatnya sebagai Kuwu.

Selain versi diatas, dibawah ini ada versi lainnya tentang sejarah Tugu.
Menurut empunya cerita mengatakan disekitar pada pertengahan abad 15 tepatnya tahun 1450 datanglah seorang Guru Agama dari Cempa – Malaka – Malaysia kewilayah pantai Indramayu tepatnya desa Tinumpuk Kecamatan Juntinyuat. Dengan tujuan penyiaran Agama Islam. Beliau sampai ketempat tujuannya mengarungi lautan jawa bernama Syekh Gagang Aking, seorang yang khusyu 'wara' beribadah.
Beliau menetap selama bertahun-tahun di daerah Tinumpuk tersebut mengajarkan ilmu-ilmu agama, ilmu bercocok tanam dan ilmu budaya. Karena ia orang yang berpengalaman sewaktu di Malaka bercocok tanam. Kepada semua muridnya yang berdatangan dari luar daerah yang sengaja menuntut ilmu kepada beliau.
Dari hasil perkawinannya dengan seorang wanita dari putri seorang tokoh masyarakat Desa Tinumpuk yang bernama "Nyi Tambak Ayu" selang beberapa tahun membina rumah tangga dikaruniai 2 orang anak putra dan putri.
Kedua anaknya putra bernama Raden. Nampa Bhaya dan yang putrinya bernama "Nyi Ayu Lapda Kriya". Keduanya dididik oleh kedua orang tuanya dengan berbagai kecakapan ilmu hingga tumbuh sampai dewasa. Keduanya mempunyai cita-cita yang luhur dari semenjak kecil yakni menginginkan membuat suatu wilayah pedesaan untuk dijadikan tempat tinggal. Kelak anak cucunya yang betul-betul layak di sebuah desa. Karena kita maklumi pada abad 15 masih tampak hutan diseputar wilayah Indramayu.
Pada waktu minta izin kepada kedua orang tuanya ditunjukannya wilayah yang akan digarap itu, yakni di sebelah barat tempat tinggal mereka untuk dijadikan pedesaan. Raden. Nampa Bhaya ditunjukan untuknya sebelah utara dan untuk Nyi Lapda Kriya ditunjukkan sebelah selatannya.
Disekitar tahun 1500 an kesultanan Cirebon diperintah oleh Pangeran Surya Negara yang di wilayahnya pada waktu itu meliputi wilayah daerah yang akan digarap oleh anaknya syekh Gagang Aking. Keduanya disuruh minta izin dari kesultanan Cirebon. Dengan berat hati kedua putranya berangkat menuju kesultanan Cirebon.
Perrmohonannya kepada Pangeran Surya Negara dipuji dan diterima dengan senang hati, diberinya surat kuasa. Karena Pangeran Sendiri pernah datang ke wilayah tersebut dan sampai sekarang tempatnya diabadikan.
Sepulang dari kesultana Cirebon keduanya mulai bekerja dengan kesungguhan hati.
Penulis menceritakan wilayah yang digarap oleh Raden Nampa Bhaya yang sekarang jadi Desa Sudimampir dan makam dari Raden Nampa Bhaya sendiri masih utuh.
30 tahun lamanya Nyi Ayu Lapda Kriya membongkar hutan dan membenahinya sampai menjadi sebuah tegalan yang dianggap memenuhi syarat sebagai layaknya tempat tinggal masyarakat pada waktu itu  yang sekarangf jadi Desa Tugu Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu.
Adapun sejarah pembuatan tegalan Tugu dan sejarah panjang lebar Nyi Lapda Kriya penulis cukupkan.
Keadaan penduduk masa itu kalau dibayangkan masih bersifat sangat selektif memilih tempat tinggal untuk dijadikan kediaman sampai tua. Masih memilih yang cocok dan jauh dari gangguan.
Adanya tegalan baru itu terdengar oleh luar daerah subur dan aman itu, maka berdatanganlah dari daerah-daerah luar ke daerah tersebut dan kumpulah menjadi satu masyarakat. Pada waktu itu penduduk kira-kira 60 kepala keluarga dan selanjutnya dibentuk satu kepemerintahan dengan cara demokrasi langsung dengan melalui persetujuan lisan.
Disekitar tahun 1530 M terbentuklah kepemerintahan secara resmi dipimpin oleh seorang pendatang yang berasal dari Kaliwungu-Jawa Tengah dan secara konvensi dinamai wilayah tersebut Desa Tugu.
Dengan adanya kepemerintahan yang kokoh dan dengan seorang pemimpin yang bertanggung jawab, kerja keras membangun dan membenahi desa tersebut hingga terbentuk desa yang dari tahun ke tahun membaik. Penduduk-penduduk dari luar pun berdatangan bertambah terutama dari Jawa Tengah dan ada pula yang dari tetangga desa saja yakni dari desa kaliwedi.
Dari pemerintahan itulah dibenahi dibidang pertanian. Pada masa itu pertanian masih sederhana sekali, walau demikian dengan kerja keras penduduknya terbina dengan baik sehingga hasil dari bercocok tanam padi, ubi dan lain-lain dapat mencukupi masyarakat.
Diperkirakan pada waktu itu kebudayaan masih lekat ketat dengan hindu budha /kejawen bahkan sampai penghitungan pun masih memakai bahasa jawa kuno yang sampai sekarang masih ada dari warisan itu.
Seperti kupat susur yang artinya 35, kupat belah yang artinya 350, karo belah yang artinya 150. dibidang keorganisasian masyarakat pun pada waktu itu masih digunakan istilah jawa kuno seperti durugan artinya organisasi yang artinya membina kegotong royongan masyarakat.
Akingan–akingan organisasi yang membina kerja wajib masyarakat dibidang keamanan. Telitian yang artinya arisan.
Kramanan yang artinya organisasi kepemudaan, keenoman yang artinya kegiatan-kegiatan remaja,semua kegiatan-kegiatan berada di tengah masyarakatnya.
Dibidang keagamaan pada masa itu masyarakat Desa Tugu masih fanatic dengan kepercayaan kejawen yang tak tentu arah. Walau demikian pada masa kepemerintahan Den Adi tersebut ada seorang tokoh Agama Islam yang bernama kiyai Suleman, namun agama islam masih individu karena tidak umum.
Add caption


Situs Buyut Tugu
Dalam tradisinya masyarakat Desa Tugu pada masa itu masih banyak dipengaruhi hindu budha. Dibidang seni terutama dikalangan pemudi dengan menabuh lesung atau siblon yang terbuat dari kayu jati alat untuk menumbuk padi dan sebagai tabuhnya alat penumbuk yang berupa alu yang terbuat dari kayu bendara.

4 komentar:

  1. mas pangki wong sing paling murah senyum...

    BalasHapus
  2. Apamaning sampean wong garaaang ... hhe"
    bos korea pisan ...

    waras tha bos kabare?

    BalasHapus
  3. terus masalah orang tugu iti logat suaranya ko panjang di akhir kalimat nya....itu apakah karena perpaduan bahasa asing apa gmana ya mas mksih...

    BalasHapus
  4. terus masalah orang tugu iti logat suaranya ko panjang di akhir kalimat nya....itu apakah karena perpaduan bahasa asing apa gmana ya mas mksih...

    BalasHapus